Membangun“Silicon Valley”diIndonesia, mengapa tidak?

Apabila mendengar nama Silicon Valley, tergambar di pikiran kita suatu daerah yang mempunyai infratruktur dan teknologi canggih yang menjadi tempat berkumpulnya para pakar dan perusahaan teknologi informasi di negara bagian California, Amerika Serikat. Daerah ini memang terkenal sebagai tempat bermulanya perusahaan-perusahaan besar di bidang teknologi informasi seperti: Adobe, Apple, Cisco, Yahoo dan nama besar lainnya. Bukan hanya itu, di tempat ini juga terdapat pusat riset atom dan mesin pemecah atom terbesar di AS.


Istilah Silicon Valley sendiri muncul pada tahun 1971 pada sebuah buletin mingguan Electronic News yang menggambarkan suatu wilayah yang menjadi lokasi perusahaan-perusahaan dalam industri semikonduktor dan industri teknologi. Silikon adalah bahan dasar untuk pembuatan keping semikonduktor dan prosesor, sedangkan disebut Valley (bukit) karena pusat industri hardware dan software itu terletak di Santa Clara Valley, di ujung San Fransisco Bay. Awal mula berdirinya Silicon Valley sendiri dirintis oleh Universitas Stanford pada tahun 1890 untuk menciptakan kawasan industri teknologi yang berpusat di California. Kerja sama dengan berbagai perusahaan teknologi dan pusat pendidikan tersebut bersinergi pada awal tahun 1950an untuk menyamakan visi dan misinya. Sebuah perjalanan yang panjang dan membutuhkan waktu cukup lama untuk mengembangkan kawasan tersebut. Saat ini, Silicon Valley telah menjadi simbol sebuah kawasan peradaban berteknologi tinggi yang menghasilkan produk yang digunkan jutaan umat manusia.
Saat ini, bidang Teknologi Informasi (TI) telah berkembang sangat pesat terutama semenjak berkembangnya dunia internet. Demikian pula halnya di bidang perangkat keras, kemajuan yang sangat pesat juga sangat dirasakan. Hampir setiap tahun terdapat banyak inovasi terbaru TI di bidang komputer, medis, telekomunikasi bahkan karya seni yang lahir dengan perantaraan teknologi informasi. Bukan tidak mungkin kalau beberapa tahun ke depan, cahaya dapat menjadi sumber energi yang digunakan sebagai pengantar komunikasi data yang digunakan untuk jaringan komputer.
Melihat perkembangan dunia TI selama ini, Indonesia hanya menjadi “penonton” dan konsumen yang baik. Berbagai macam produk inovasi terbaru menjadi santapan para penggila gadget dan TI di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak. Setiap produk terbaru yang diluncurkan oleh produsen ternama, selalu saja terdapat antrian panjang dari konsumen Indonesia. Sampai kapan kita akan menjadi pemakai sejati tanpa berkontribusi untuk kemajuan teknologi?
Melihat contoh dari bukit silikon di AS, penciptaan teknologi oleh suatu perusahaan bukanlah sebuah proses instan yang dapat dihasilkan dalam waktu sekejap. Berdasarkan karakterisitiknya, karya teknologi sarat oleh penelitian dan eksperimen dan lahir melalui proses yang sangat panjang. Semua diawali dari bangku sekolah dengan adanya kebiasaan untuk mengadakan penelitian dan pengembangan dalam skala kecil. Budaya untuk menulis, membaca dan meneliti sehingga menjadi suatu karya ilmiah patut dikembangkan sejak usia dini. Hal ini yang masih dirasakan kurang pada sistem pendidikan di Indoensia.
Diperlukan suatu sinergi yang kuat antara pihak pemerintah, swasta dan lembaga pendidikan untuk bersama-sama menuju ke arah yang sama. Banyak universitas di luar negeri yang berperan besar dalam menunjang proses inovasi. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam hal inilah dibutuhkan andil pihak swasta untuk membantu universitas sebagai pengelola ilmu. Dana yang dikeluarkan oleh pihak swasta untuk membiayai riset di kampus-kampus, sangat berguna untuk dapat menunjang keberhasilan suatu riset. Di sisi lain, pihak swasta juga selayaknya untuk dapat diberi insentif agar mau memberikan porsi dananya untuk kepentingan riset. Peran pemerintah sebagai pengambil kebijakan juga diperlukan untuk menciptakan susasana yang kondusif bagi perkembangan dunia TI. Misalnya, adanya fasilitas penyediaan dana bagi usaha kecil dan menengah di bidang IT. Sebagaimana diketahui, Bill Gates, mengawali penciptaan Microsooft dari sebuah garasi kecil milik orang tuanya. Dana yang dijadikan modal awal perusahaannya berasal dari dana ventura yang disediakan oleh pemerintah Amerika Serikat.
Peran pemerintah ini dapat diambil oleh pemerintah salah satu pemerintah daerah propinsi. Misalnya di wilayah Kalimantan atau Sulawesi yang wilayahnya masih luas. Wilayah propinsi yang luas dan jumlah sumber daya manusia yang mencukupi, dapat menjadi modal dasar pengembangan kawasan ini. Dengan mengembangkan suatu kawasan terbuka ditunjang dengan infrastruktur yang memadai untuk pengembangan TI, pemda dapat memulainya dengan membangun lembaga pendidikan unggulan dengan fokus pada dunia TI. Wilayah tersebut juga dapat disterilkan dari pungutan-pungutan yang banyak menghambat penanaman modal dari pihak investor. Selanjutnya pihak pemda dapat mengundang pihak swasta untuk membangun pusat penelitian dan juga kantor yang didukung oleh sumber daya optimal untuk pengembangan TI serta adanya insentif untuk mereka yang berkantor di sana.

Pembangunan dan pengembangan wilayah yang fokus pada dunia TI di daerah diharapkan dapat menjadi pendobrak pembangunan TI di Indonesia. Sumber daya yang dimiliki oleh negara Indonesia khususnya di daerah dapat dijadikan suatu potensi untuk menciptakan produk berteknologi, bukan hanya sebagai pemakai.

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Pembangunan, Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s