Detik-detik menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945

Diambil dan disarikan dari buku “Menuju Gerbang Kemerdekaan”, Sebuah Otobiografi Mohamad Hatta
Penerbit Buku Kompas
ISBN 978 979 709 941 1

16 Agustus 1945 pagi hari setelah sahur:
Soekarno dan Hatta diculik oleh para pemuda ke Rengasdengklok
Jam 18.00 mereka berdua dibebaskan dan dibawa kembali ke Jakarta
Jam 20.00 tiba di Jakarta
Jam 22.00 mereka tiba di rumah Admiral Maeda‎ (Jalan Imam Bonjol Nomor 1)

‎Kisah selanjutnya setelah tiba di rumah Maeda:
(halaman 91-93)

———-

Setelah kami sampai di rumah Maeda, yang jaraknya kurang lima menit dengan oto dari rumah Sumubuco, kelihatan Maeda geleng-geleng kepala. Tuan Miyoshi tetap menyertai kami. Kami lihat di sana sudah lengkap hadir anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, pemimpin-pemimpin pemuda, beberapa pemimpin pergerakan, dan anggota-anggota Cuo Sangi In yang ada di Jakarta. Semuanya ada kira-kira 40 atau 50 orang-orang terkemuka. Di jalan banyak pemuda yang menonton atau menunggu hassil pembicaraan.

Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Sukarno dan aku mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil bersama-sama dengan Subardjo, Soekarni dan Sayuti Melik. Kami duduk sekitar sebuah meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang memembawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta.

‎Sukarno berkata, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.”
Aku menjawab,”Apabila aku memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.” Semuanya setuju, kalimat pertama diambil dari alinea ketiga rencana Pembukaan UUD yang mengenai Proklamasi. Lalu, kalimat pertama itu menjadi,
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Namun aku mengatakan, kalimat itu hanya menyatakan kemauan bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.

Sebab itu, mesti ada komplemennya yang menyatakan bagaimana caranya menyelenggarakan revolusi nasional. Lalu, aku mendiktekan kalimat yang berikut,
“Hal-hal yang yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesimgkat-singkatnya.”
Setelah berttukar pikiran sebentar, teks itu disetujui oleh kami berlima yang menjadi panitia kecil.

Setelah kerja kami selesai, kami masuk ke ruang tengah rumah, di mana yang bersangkutan sudah menunggu. Sidang itu bukanlah lagi sidang Panitia Persiapan Kwmerdekaan Indonesia semata-mata. Seperti dikatakan tadi, sudah bertambah dengan pemimpin-pemimpin pemuda serta pemimpin rakyat dan anggota Cuo Sang In yang berada di Jakarta.

Sukarno mulai meembuka sidang dan membacakan rumusan pernyataan kemerdekaan yang dibuat tadi, perlahan-lahan dan berulang-ulang. Sesudah itu ia bertanya kepada yang hadir,”Dapatkah ini saudara-saudara setujui?”. Gemuruh suara mengatakan setuju. Diulang oleh Sukarno, “Benar-benar saudara semuanya setuju?”

“Setuju,” kata yang hadir semuanya. Kukira tidak ada yang tidak setuju. Sesudah itu aku bicara dan mengemukakan, “Kalau saudara semuanya setuju, baiklah kita semuanya yang hadir di sini menandatangani naskah Proklamasi Indonesia Merdeka ini sebagai suatu dokumen yang bersejarah. Ini penting bagi anak cucu kita. Mereka harus tahu, siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia merdeka. Ambillah contoh kepada naskah proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat dahulu. Semuanya yang memutuskan ikut menadatangani keputusan mereka bersama”

Sejenak rapat diam dan tidak terdengar suatu diskusi apa pun tentang yang kuusulkan itu. Tidak lama sesudah itu Soekarni maju ke muka, menyatakan dengan suara lantang.
“Bukan kita semuanya yang hadir di sini ‎harus menadatangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menandatangani atas nama rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta.”

Ucapan itu disambut oleh seluruh yang hadir dengan tepuk tangan yang riuh dan muka berseri-seri. Aku merasa kecewa karena kuharapkan mereka serta menandatangani suatu dokumen yang bersejarah, yang mengandung nama mereka untuk kebanggaan anak cucu di kemudian hari. Akan tetapi, apa yang akan dikata?

Sebelum rapat ditutup, Sukarno memperingatkan bahwa hari itu juga, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 proklamasi itu akan dibacakan di muka rakyat di halaman rumahnya di Pegangsaan Timur 56.

Maka sidang yang bersejarah itu berakhirlah kira-kira pukul 03.00 dinihari tanggal 17 Agustus 1945.

‎——–

image

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s