Kenapa Saya Setuju Pelarangan Pemakaian Ponsel Bagi Anak-Anak

Peraturan pelarangan pemakaian ponsel terhadap anak-anak sedang disiapkan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise. Menurut Ibu Menteri, penggunaan ponsel bagi anak-anak dapat membuka peluang untuk membuka situs dewasa yang pada akhirnya dapat mempengaruhi perilaku mereka pada saat menginjak usia dewasa. Saya sangat setuju dengan keputusan ini.

Aturan ini sudah berlaku bagi anak-anak saya sejak dulu. Sebelum masuk SMP, ketiga anak saya tidak diperkenankan memakai ponsel. Aturan ini agak sulit diterapkan. Mengapa? Karena hampir semua anak-anak SD di Jakarta sudah menggunakan ponsel. Bahkan untuk anak bungsu saya yang sekarang duduk di bangku SD kelas empat, ada beberapa temannya yang memiliki dua buah ponsel. Jadi, anak-anak saya harus rela untuk bebrbeda sendiri di lingkungannya.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya atas pelarangan ini:

Pertama, membiasakan anak-anak untuk berkomunikasi secara langsung. Tanpa disadari, keberadaan ponsel beserta kecanggihan aplikasi yang ada di dalamnya, telah membuat seseorang menjadi “asyik sendiri”. Bahkan di tengah keramaianpun dapat terlihat hampir semua orang asyik dengan ponselnya. Apabila hal ini dibiasakan sejak kecil, seorang anak dapat kehilangan makna berkomunikasi secara langsung dengan orang lain. Padahal kemampuan pengungkapan secara verbal dalam berkomunikasi sangat diperlukan untuk pengembangan pribadi seseorang.

Kedua, membiasakan anak-anak untuk aktif bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan. Menggunakan ponsel selain untuk komunikasi baik untuk chat, ber-internet maupun bermain game tanpa terasa dapat menghabiskan banyak waktu. Bahkan menurut survey,orang Indonesia adalah pengguna ponsel pintar nomor satu di dunia dengan waktu pemakaian rata-rata 181 menit per hari. Luar biasa! Masa kanak-kanak adalah waktunya untuk aktif bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya. Akan sangat disayangkan apabila waktu yang terbuang hanya untuk hal-hal yang kurang produktif.

Ketiga, membiasakan anak-anak untuk terbuka dengan orang tua. Dengan adanya ponsel pintar, anak-anak dapat berkomunikasi via aplikasi chat kepada teman, saudara bahkan orang yang sebelumnya belum dikenal. Pola komunikasi yang mereka lakukan tidak dapat dimonitor setiap saat oleh orang tua. Dalam hal tertentu, ada kecenderungan bagi sang anak untuk merahasiakan apa yang dikomunikasikannya melalui ponselnya. Hal ini sulit dibendung dengan semakin canggihnya ponsel pintar saat ini.

Keempat, menghindari pengaruh buruk. Anak-anak belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Di lain sisi, lalu lintas data dalam aplikasi chat juga melibatkan gambar, video dan foto yang tidak dapat disensor penayangannya. Orang tua bisa saja membatasi penggunaan ponsel baik dari waktu pemakaian, namun tidak dapat mencegah orang lain untuk mengirimkan sesuatu kepada ponsel anak kita.

Kelima, memberikan waktu bagi anak untuk memahami dunia ponsel. Waktu enam tahun sudah sangat cukup bagi anak untuk memahami baik buruknya penggunaan ponsel. Tentu saja diperlukan bimbingan dan nasihat dari orang tua agar sang anak dapat mudah memahami manfaat positif penggunaan ponsel. Dengan begitu, ketika sudah boleh menggunakan ponsel di bangku SMP, sang anak lebih siap dan produktif menggunakan ponsel.

Saat ini, dua anak pertama saya sudah menggunakan ponsel karena sudah tidak di bangku SD lagi. Melihat perkembangan pesat ponsel pintar dan kecanggihannya, mudah-mudahan anak saya yang bungsu masih bisa bertahan tidak menggunakan ponsel selama dua tahun lagi.

Tinggalkan komentar

Filed under Daily life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s