Waktu bersama keluarga

Waktu berjalan terus tanpa terkendali. Salah satu waktu berharga yang kita miliki adalah waktu bersama keluarga. Dalam dua puluh empat jam yang kita miliki, kurang lebih enam sampai delapan jam dipakai untuk tidur, delapan sampai sepuluh jam dipakai untuk bekerja, kurang lebih dua jam untuk perjalanan kalau tinggal di kota besar seperti Jakarta. Praktis, tinggal sisa empat jam waktu yang tersisa untuk kegiatan lainnya. Berapa lama waktu yang kita habiskan untuk keluarga?

Selama hari kerja, ada waktu khusus yang bisa dimanfaatkan untuk keluarga. Salah satunya adalah pagi hari. Rutinitas bangun pagi yang dilanjutkan dengan sholat Subuh dan mandi pagi, dapat dilanjutkan dengan family time yang berkualitas. Sambil makan pagi bersama, waktu yang kurang lebih tiga puluh menit sangat bermanfaat bagi keluarga kami. Obrolan dan santai dapat mengakrabkan keluarga. Waktu berkualitas ini selain bercerita tentang aktifitas sehari-hari terkadang juga saya isi dengan humor segar, tebak-tebakan dan membicarakan berbagai isu hangat.

Hari ini misalnya, anak-anak saya bercerita tentang kegiatan di sekolahnya. Tiga anak saya bergantian bercerita tentang aktifitasnya. Ada pesan moral yang kami sisipkan ketika cerita yang disampaikan adalah sesuatu yang kurang baik, misalnya tentang mencontek. Sambil makan pagi, suasana ini sangat saya sukai karena semua bebas bercerita tentang apa saja. Terkadang juga disela dengan nasehat tentang cara makan yang benar, posisi duduk dan lainnya dari sang ibu. Hari ini, anak tengah saya bercerita tentang kelakuannya saat hendak dioperasi yang berteriak-teriak ketakutan seolah hidupnya akan segera berakhir. Tawa kamipun berderai. Saat bercerita terasa lucu dan menggemaskan, namun kalau mengingat kejadian sebenarnya saat itu, anak saya benar-benar membuat kami khawatir dan takut.

Setelah selesai makan dan bercengkerama, saya ijin untuk berangkat ke kantor dan mencium satu per satu anak saya sambil mengucapkan doa dengan suara yang keras agar mereka mendapatkan afirmasi akan menjadi anak yang baik dan bermanfaat untuk sesama. Yang sudah beranjak dewasa, biasa ingin supaya ciuman di pipinya tidak terlalu lama. Mungkin sudah risih dicium sang ayah. Namun sang ayah tetap cuek dan ingin anaknya tau betapa saya mencintainya dan mendoakan yang terbaik untuk mereka. Sang ibu juga mendapatkan ciuman hangat di pipi dengan doa yang sama. Sebelum berangkat, saya juga meminta mereka untuk tidak lupa berdoa sebelum ke sekolah. Mudah-mudahan mereka selalu mengingat momen membahagiakan ini dan dapat meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Waktu yang sedikit dapat menjadi berkualitas apabila kita bisa memanfaatkannya dengan baik.

frans

Tinggalkan komentar

Filed under Manajemen Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s