Inovasi di sektor pemerintahan dan pelayanan publik

Membaca buku tentang CEO PT KAI Ignasius Jonan yang berjudul “Jonan dan Evolusi Kereta Api Indonesia” seperti membaca kisah perjalanan suatu proses perubahan. Dengan bermodalkan semangat untuk memperbaiki PT KAI, Jonan memberikan banyak inovasi di dunia kereta api Indonesia seperti: pembelian tiket secara online yang dapat dibeli di banyak gerai toko 24 jam, pembuatan tiket elektronik dan pembersihan lingkungan kerja stasiun/peron. Dengan keputusan yang berani dan banyak mendapat tantangan dari banyak pihak sang CEO terus melangkah. Wujud nyata hasil perubahannya terbukti dengan meningkatnya laba perusahaan dan juga take home pay dari para pegawai PT KAI. Salut!Jonan bukanlah orang “asli” dari PT KAI, pertanyaannya adalah, kenapa selalu harus orang “luar” untuk membuat perubahan? Beberapa inovasi yang beliau perkenalkan bukanlah sesuatu yang baru di dunia perkereta apian dan semestinya sudah banyak diketahui oleh para pejabat-pejabat sebelumnya. Salah satu penyebab tiadanya perubahan adalah situasi kenyamanan (comfort zone) yang dirasakan oleh para pegawai perusahaan atau anggota organisasi. Apalagi kalau comfort zone tersebut memberikan keuntungan yang besar bagi pihak-pihak tertentu. Pasti mereka tidak rela untuk berubah. Jonan menceritakan bahwa koleganya di Bank pernah memberitahukan tentang adanya pejabat KAI yang mempunyai rekening milyaran. Tapi Jonan tidak mempermasalahkan hal tersebut tapi lebih fokus ke depan untuk menutup kebocoran-kebocoran dengan membuat suatu sitem dan inovasi. Selain itu, integritas menjadi faktor utama bagi para pegawainya.

Inovasi di dunia pemerintahan atau kalangan birokrat sulit dilakukan apabila masih banyak pegawai yang menikmati comfort zone dan tidak rela untuk berubah yang pada akhirnya membuat keuntungan pribadinya (material maupun imaterial) menurun. Berada dalam situasi yang menguntungkan memang sangat menyenangkan, namun apabila keuntungan tersebut karena menghambat proses perubahan untuk menjadi yang lebih baik akan sangat merugikan banyak pihak. Terkadang, banyak orang yang rela untuk “membayar” atau “mengurus” agar tidak terjadi perubahan, baik dari soal : posisi, jabatan, proses kerja dan birokrasi.

Faktor lain adalah belum adanya buadaya untuk membiasakan pegawai pemerintah untuk melakukan inovasi. Struktur organisasi yang hirakikal turut mempengaruhi hal ini, karena kesempatan untuk berembuk, tukar pikiran atau brainsorming terbatas oleh sekat-sekat struktural. Belum lagi budaya ewuh pakewuh antara atasan dan bawahan yang semakin membuat jarak komunikasi menjadi tajam. Dampaknya, pegawai yang baru masuk dan masih berusia muda kehilangan semangat berinovasi karena belum menjadi budaya sehingga akhirnya masuk ke jurang “business as usual”. Harus ada ruang dan waktu untuk menjadikan inovasi sebagai suatu budaya.

Peran pemimpin sangat besar dalam menentukan suatu perubahan sehinngga dapat menimbulkan semangat berinovasi. Seperti halnya Jonan, dunia pemerintahan juga memerlukan pemimpin sejati yang berani bertindak, mengambil risiko serta mendukung para bawahannya apabila terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Seharusnya, tipe pemimpin seperti inilah yang menjadi pemimpin pemerintahan mulai dari di level eselon IV sampai eselon I.

 

Tetap semangat!

 

-Frans-

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Daily life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s