Pengalaman Berinteraksi dengan Intel Jepang

Ribut-ribut soal intel dan terosisme di Indonesia mengingatkan saya kepada intel di Jepang yang ternyata juga “nggak pinter-pinter amat”. Pemerintah Jepang juga cukup aktif mengawasi kegiatan agama Islam di negaranya. Salah satu caranya adalah dengan melalui cara-cara persuasif. Biasanya melalui pendekatan kepada orang-orang yang dianggap aktif atau berperan dalam suatu komunitas muslim. Saya yang kebetulan waktu itu menjadi ketua komunitas muslim untuk mahasiswa international di Niigata University (Jepang) juga sempat mendapatkan pengalaman menarik.

Suatu hari ada orang Jepang yang mengaku sebagai mahasiswa menelpon saya. Katanya dia mendapatkan nomor telpon saya melalui brosur/pamphlet tentang kegiatan komunitas kami yang hendak membangun mesjid di dekat kampus. Dalam pembicaraan tersebut dia mengaku sebagai mahasiswa pasca sarjana di sebuah universitas di Tokyo dan sedang melakukan study tentang perkembangan agama Islam di Jepang beserta latar belakang sejarahnya. Setelah berbasa basi, dia mengajak saya bertemu untuk bertanya-tanya tentang Islam di Jepang untuk kepentingan riset kuliahnya.

Seminggu kemudian kami berjumpa, sengaja saya pilih mushola kami sebagai tempat pertemuan. Maksudnya supaya sang mahasiswa Jepang tersebut dapat melihat langsung tempat ibadah kami. Mushola kami tak lain adalah apartemen yang kami sewa dari orang Jepang. Namanya saja yang keren, apartemen, tapi ruangannya sangat kecil berukuran tak lebih dari 4 tatami (kurang lebih 4×6m), ditambah dengan ruangan dapur dan kamar mandi yang juga sangat kecil.

Setelah berkenalan secara langsung dan bertanya mengenai hal-hal ringan, banyak pertanyaan yang dia ajukan seputar Islam. Pertama-tama pertanyaannya tertuju tentang bagaimana kesannya menjalankan kewajiban sebagai muslim di negara Jepang. Misalnya apakah ada masalah dalam menjalankan sholat, berpuasa dan lain-lain di dalam lingkungan kampus. Selanjutnya dia mulai bertanya tentang rencana membangun mesjid di kampus.

Saya jelaskan bahwa dengan dengan mushola sekecil itu tidak memadai untuk menampung mahasiswa ketika hendak sholat Jumat dan sholat jamaah lainnya. Kami membutuhkan tempat yang lebih besar sehingga leluasa untuk melaksanakan sholat serta aktivitas lainnya. Dari pertanyaannya, saya mulai curiga dengan orang ini. Kenapa dia bertanya tentang kegiatan kami? Dengan mengaku sebagai mahasiswa yang sedang riset tentang perkembangan agama Islam, tapi pertanyaan lebih banyak ke arah aktivitas organisasi mahasiswa muslim.

Lalu, bagaimana saya bisa tahu kalau dia seorang intel? Di ujung pertemuan kami, dia melontarkan suatu pertanyaan yang mengejutkan. Pertanyaannya, apakah kegiatan pengkajian AlQuran setiap malam minggu di mushola ini dapat menampung pesertanya? Ooopss… Saya belum sama sekali memberitahu tentang kegiatan pengajian rutin kami kepadanya, lalu dari mana dia bisa tahu?

Ternyata intel juga manusia, bisa terpeleset lidah, termasuk intel Jepang “yang nggak pinter-pinter amat” ini. Mungkin dia merasa saya sudah menjelaskan tentang hal ini. Intiusi saya langsung mengatakan bahwa dia adalah seorang intel yang memata-matai kegiatan kami. Untungnya, kegiatan kami tidak ada yang bersifat membahayakan menurut ukuran mereka. Lebih untungnya lagi, sang intel juga sempat memberikan uang untuk pembangunan mesjid kami.

Ketika saya cerita tentang hal ini dengan teman-teman sesama mahasiswa, ternyata beberapa dari mereka juga pernah didatangi oleh intel Jepang. Dan memang kebanyakan intel Jepang sangat baik hati dalam “menginterogasi”, biasanya sambil makan-makan di restoran. Tak jarang juga mereka membawa barang sebagai oleh-oleh. Namun sejak saat itu saya lebih berhati-hati kalau ada orang Jepang yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kegiatan kami. Begitulah sekelumit cerita tentang intel Jepang yang baik hati.

1 Komentar

Filed under Daily life, Jepang

One response to “Pengalaman Berinteraksi dengan Intel Jepang

  1. Hahahaha….. pernah juga yah mas frans di datangin intel Jepun. Temanku lebih parah mas, malah bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Biasanya dia nelpon minta ketemu. emang sih diajak makan-makan segala, tapi bosen juga kalau tiap minggu diajak ngobrolin hal yg sama berputar-putar dimasalah yg itu-itu saja.
    Temanku akhirnya sebal juga dan akhirnya ganti nomer HP nya ketika lulus sekolah dan bekerja. sin intel yg tak tahu nomer HP temanku yg baru akhirnya tak muncul2 lagi:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s