Renungan Menjelang Pulang

Menjelang pulang ke Indonesia, kesibukan untuk persiapan pulang meningkat. Yang paling banyak menyita waktu adalah memilah-milah barang yang akan dibawa, ditinggal atau dibuang. Barang yang masih diperlukan dibawa pulang. Untuk barang-barang yang masih bisa dipakai tapi tidak diperlukan lagi, biasanya diberikan kepada teman-teman yang masih tinggal di Niigata.

Yang sudah tidak diperlukan lagi dibuang ke tempat sampah. Membuang sampah di Jepang dibagi per jenis barang, antara lain: barang yang bisa di daur ulang, sampah plastik, sampah besar (lemari, meja, TV, kulkas, dll) serta sampah yang tidak bisa didaur ulang (piring, gelas, sendok, dll). Setiap jenis sampah juga dibedakan hari pembuangannya. Untuk sampah yang bisa didaur ulang seminggu tiga kali, sampah plastik seminggu sekali serta sampah yang tidak bisa didaur ulang sebulan sekali. Untuk membuang sampah besar, kita harus membayar ke dinas kebersihan dan kemudian menentukan hari pembuangannya. Kalau saja kita terlewat hari pembuangan sampah, maka harus menunggu jadwal berikutnya.

Kegiatan lain menjelang pulang adalah mengurus dokumen dan administrasi lainnya. Misalnya memutuskan koneksi Internet, menutup rekening bank, memutuskan sambungan telepon, dan lain-lain. Walaupun kelihatannya sepele, namun cukup menyita waktu. Di hari terakhir sebelum berangkat nanti, kita juga harus memutuskan aliran listrik dan gas. Dua minggu menjelang pulang juga banyak undangan farewell party dari teman serta kenalan selama di Niigata. Walaupun judulnya ”party”, tapi rasa sedih dan haru sangat terasa karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah lama dikenal selama di Jepang. Saat selesai acara, biasanya saya lebih suka mengucapkan “sampai jumpa lagi” daripada “selamat berpisah”.

Di sela-sela kesibukan ini, saya juga sempat mendapatkan suatu pembelajaran. Kepulangan ke tanah air ini adalah hanya “pulang sementara” saja. Ada lagi pulang yang benar-benar pulang. Yaitu pulang untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa. Berbeda dengan pulang ke tanah air, ketika pulang kepada Sang Khalik, kita tidak bisa menentukan waktunya seperti ketika memesan tiket pesawat.Kita juga tidak bisa memilah-milah untuk hanya membawa amal ibadah kita serta meninggalkan dosa-dosa kita di dunia. Tentunya juga tidak akan ada farewell party untuk pulang yang satu ini, sehingga kemungkinan besar kita tidak akan sempat untuk mengucapkan kata berpisah kepada orang-orang yang kita cintai.

Dibandingkan dengan kepulangan ke tanah air yang sangat saya nantikan dan merasa sangat siap, rasanya saya benar-benar belum siap untuk menghadapi pulang yang sebenarnya. Barang yang saya perlukan di tempat pulang abadi nanti masih sangat sedikit. Sampah-sampah juga belum saya buang. Juga saya belum bisa berbuat sesuatu untuk banyak orang sehingga walaupun nantinya tidak sempat mengucapkan kata berpisah tapi akan selalu dikenang. Masih banyak persiapan yang harus dilakukan menjelang pulang abadi. Mudah-mudahan sang waktu masih bisa bersahabat.

1 Komentar

Filed under Daily life

One response to “Renungan Menjelang Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s