Disiplin Waktu Ala Jepang (Manajemen Waktu -2)

Jepang sangat terkenal karena masyarakatnya yang mempunyai disiplin yang sangat tinggi. Bagaimana asal muasalnya? Dirunut ke akarnya, ternyata salah satu budaya Jepang ini berasal dari budaya bercocok tanam padi. Negeri sakura ini memiliki empat jenis musim setiap tahunnya, sehingga mereka hanya dapat memanen padi sekali dalam setahun. Dengan kondisi demikian, para petani Jepang jaman dahulu dipaksa dan harus berdisiplin waktu agar padi yang mereka tanam dapat dipanen sesuai dengan waktunya sesuai dengan msuimnya. Bila gagal panen mereka tidak bisa makan nasi selama setahun. Waktu tanam harus sesuai dan pas jadwal yang telah ditetapkan.

Kebiasaan bertahun-tahun dalam bercocok tanam membuatnya menjadi suatu kebiasaan dan budaya bagi masyarakat Jepang. Segala sesuatunya dibuat berdasarkan waktu yang telah diatur. Jadwal kedatangan kereta, bus dan alat transportasi lainnya dibuat secara presisi sehingga membuat kepastian bagi orang yang hendak bepergian dari suatu tempat ke tempat lainnya. Sebagai contoh, jadwal bus dalam kota, dibuat berdasarkan study statistik, dengan pengamatan selama beberapa waktu. Jarak tempuh, jumlah rata-rata kendaraan yang melewati rute tersebut, jumlah pemilik kendaraan di sekitar jalan tersebut sampai dengan batas toleransi kemacetan menjadi faktor untuk menentukan jadwal kedatangan dan keberangkatan bus pada setiap halte. Alhasil, penumpang dapat memastikan kapan bus datang atau pergi. Jadwal tersebut biasanya berbeda antara hari biasa dan akhir pekan karena jumlah kendaraan yang lalu lalangpun berbeda.  Jadwal transportasi umum mudah didapatkan pada setiap tempat pemberangkatan atau tercantum pada setiap halte/stasiun. Dengan berkembangnya teknologi, jadwal tersebut juga bisa diakses melalui internet.

Jepang juga taat pada standar waktu. Jadwal pelajaran/kuliah per hari di setiap kampus/sekolah dibuat sama. Penunjuk waktu pada tempat umum juga dapat dipastikan sama waktunya. Untuk jam elektronik di tempat umum seperti stasiun kereta dibuat terpusat agar memudahkan pengaturan standarisasi waktunya. Penunjuk waktu pada setiap stasiun televisi juga sama dan standar. Bandingkan dengan waktu kumandang adzan Magrib di setiap stasiun televisi kita yang berbeda-beda waktunya. Walaupun hanya berbeda sekian menit atau detik tapi tetap tidak serentak. Mungkin lebih mudah pada waktu hanya ada satu televisi di republik tercinta ini, TVRI. Kita bisa menstandarisasi waktu kita dengan acara “Dunia Dalam Berita” yang disiarkan tepat pada pukul 9 malam.

Begitu menghargainya orang Jepang terhadap waktu, kalau anda bertanya suatu jarak atau lokasi sebuah tempat, biasanya mereka menjawab dengan patokan waktu. Misalnya, 7 menit berjalan kaki dari stasiun atau 8 menit bersepeda dari kantor polisi. Kalau kita perhatikan, panjang waktu yang mereka tunjukkan juga sangat presisi. Coba bandingkan dengan di negara kita, biasanya apabila ditanya soal waktu, jawabannya adalah 5 menit, 10 menit atau pembulatan waktu pada kelipatan 5 atau yang mudah dihitung. Waktu yang ditunjukkan belum tentu pas, tercermin dengan kata “kira-kira” pada awal kalimatnya.
Begitulah masyarakat Jepang menghargai waktunya. Dengan kedisiplinan terhadap waktu mereka lebih mudah melakukan suatu rencana pekerjaan yang pada akhirnya membuat segalanya menjadi efisien.

About these ads

6 Komentar

Filed under Daily life, Manajemen Waktu

6 responses to “Disiplin Waktu Ala Jepang (Manajemen Waktu -2)

  1. Jepang memang negara hebat, saya banyak belajar dari negera ini. Kapan ya saya bisa pergi ke Jepang? Kalau ada beasiswa ke jepang untuk guru mau dong.

    Salam
    Omjay

  2. Lama gak berkunjung masbro, udah banyak jg tulisannya.

    Soal disiplin orang Jepang memang termasuk kategori gila disiplin. Apalagi masyarakat Jepang termasuk hobi banget dengan data statistik, sehingga dari skedul harian, data kecelakaan lalu lintas hingga jadwal perjalanan penuh dengan tabel (kadang dilengkapi grafik) :mrgreen: untuk melihat sampai dimana perubahan yang mereka lakukan demi memperbaiki yang telah dilakukan sebelumnya

    Memang enak kalau hidup berdisiplin, kita bisa pergi pulang naik kereta listrik dgn toleransi keterlambatan hingga hitungan detik, naik bus dgn toleransi telat sekitar 5 menit, dll. Hanya saja, kadang saya merasa sudah hidup mirip kayak robot :lol:

  3. totok cahyono

    kedisiplinan yang luar biasa….. aku ingin bergabung lagi

  4. TKS BUAT PENULISNYA…

    Info yg sangat berharga dan bermanfaat buat kehidupan siapa saja yg ingin maju…:)

    keep writing yauw…^_^

  5. hmmm… aku m’dambakan kuliah d jpng… klo bwt mahasiswa dmn y bsa dpat beasiswa kul k jepang?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s