Oktober 12, 2009

Pengalaman Berinteraksi dengan Intel Jepang

Ribut-ribut soal intel dan terosisme di Indonesia mengingatkan saya kepada intel di Jepang yang ternyata juga “nggak pinter-pinter amat”. Pemerintah Jepang juga cukup aktif mengawasi kegiatan agama Islam di negaranya. Salah satu caranya adalah dengan melalui cara-cara persuasif. Biasanya melalui pendekatan kepada orang-orang yang dianggap aktif atau berperan dalam suatu komunitas muslim. Saya yang kebetulan waktu itu menjadi ketua komunitas muslim untuk mahasiswa international di Niigata University (Jepang) juga sempat mendapatkan pengalaman menarik.

Suatu hari ada orang Jepang yang mengaku sebagai mahasiswa menelpon saya. Katanya dia mendapatkan nomor telpon saya melalui brosur/pamphlet tentang kegiatan komunitas kami yang hendak membangun mesjid di dekat kampus. Dalam pembicaraan tersebut dia mengaku sebagai mahasiswa pasca sarjana di sebuah universitas di Tokyo dan sedang melakukan study tentang perkembangan agama Islam di Jepang beserta latar belakang sejarahnya. Setelah berbasa basi, dia mengajak saya bertemu untuk bertanya-tanya tentang Islam di Jepang untuk kepentingan riset kuliahnya.

Seminggu kemudian kami berjumpa, sengaja saya pilih mushola kami sebagai tempat pertemuan. Maksudnya supaya sang mahasiswa Jepang tersebut dapat melihat langsung tempat ibadah kami. Mushola kami tak lain adalah apartemen yang kami sewa dari orang Jepang. Namanya saja yang keren, apartemen, tapi ruangannya sangat kecil berukuran tak lebih dari 4 tatami (kurang lebih 4×6m), ditambah dengan ruangan dapur dan kamar mandi yang juga sangat kecil.

Setelah berkenalan secara langsung dan bertanya mengenai hal-hal ringan, banyak pertanyaan yang dia ajukan seputar Islam. Pertama-tama pertanyaannya tertuju tentang bagaimana kesannya menjalankan kewajiban sebagai muslim di negara Jepang. Misalnya apakah ada masalah dalam menjalankan sholat, berpuasa dan lain-lain di dalam lingkungan kampus. Selanjutnya dia mulai bertanya tentang rencana membangun mesjid di kampus.

Saya jelaskan bahwa dengan dengan mushola sekecil itu tidak memadai untuk menampung mahasiswa ketika hendak sholat Jumat dan sholat jamaah lainnya. Kami membutuhkan tempat yang lebih besar sehingga leluasa untuk melaksanakan sholat serta aktivitas lainnya. Dari pertanyaannya, saya mulai curiga dengan orang ini. Kenapa dia bertanya tentang kegiatan kami? Dengan mengaku sebagai mahasiswa yang sedang riset tentang perkembangan agama Islam, tapi pertanyaan lebih banyak ke arah aktivitas organisasi mahasiswa muslim.

Lalu, bagaimana saya bisa tahu kalau dia seorang intel? Di ujung pertemuan kami, dia melontarkan suatu pertanyaan yang mengejutkan. Pertanyaannya, apakah kegiatan pengkajian AlQuran setiap malam minggu di mushola ini dapat menampung pesertanya? Ooopss… Saya belum sama sekali memberitahu tentang kegiatan pengajian rutin kami kepadanya, lalu dari mana dia bisa tahu?

Ternyata intel juga manusia, bisa terpeleset lidah, termasuk intel Jepang “yang nggak pinter-pinter amat” ini. Mungkin dia merasa saya sudah menjelaskan tentang hal ini. Intiusi saya langsung mengatakan bahwa dia adalah seorang intel yang memata-matai kegiatan kami. Untungnya, kegiatan kami tidak ada yang bersifat membahayakan menurut ukuran mereka. Lebih untungnya lagi, sang intel juga sempat memberikan uang untuk pembangunan mesjid kami.

Ketika saya cerita tentang hal ini dengan teman-teman sesama mahasiswa, ternyata beberapa dari mereka juga pernah didatangi oleh intel Jepang. Dan memang kebanyakan intel Jepang sangat baik hati dalam “menginterogasi”, biasanya sambil makan-makan di restoran. Tak jarang juga mereka membawa barang sebagai oleh-oleh. Namun sejak saat itu saya lebih berhati-hati kalau ada orang Jepang yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kegiatan kami. Begitulah sekelumit cerita tentang intel Jepang yang baik hati.

Oktober 6, 2009

Belajar dari akarnya

Masih cerita seputar pengalaman menimba ilmu dari negeri sakura. Suatu hari saya dipanggil oleh professor pembimbing disertasi. Kami berdiskusi tentang paper yang akan saya submit ke sebuah jurnal. Setelah melihat draft paper yg sudah dibuat, beliau meminta agar mencari sumber data lain sebagai pembanding.  Data tersebut berupa dokumen Liga Bangsa-Bangsa yang dikeluarkan pada tahun 1920an.  Liga Bangsa Bangsa adalah cikal bakal dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

Waduh…bagaimana mesti mencari doumen ini???

Baca terus →

September 15, 2009

Belajar dari puasa di bulan Ramadhan

Berpuasa pada bulan suci menjadi suatu kewajiban bagi para umat muslim di seluruh dunia. Lalu apa yang bisa kita pelajari dari berpuasa ini? Tentu kita sudah banyak mengetahui berbagai hikmah Ramdhan yang dipandang dari aspek kesehatan, ketaqwaan, keimanan dan lain-lain. Sekarang akan coba dilihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda, yaitu dari kehidupan sehari-hari yang tidak terlalu berat.

Baca terus →

Agustus 8, 2009

Disiplin Waktu Ala Indonesia (Manajemen Waktu -4)

Setelah membahas disiplin waktu ala Jepang di bagian kedua, tulisan ini akan membandingkannya dengan di Indonesia. Kita tentu sering mendengar “besok” atau “mbesok” dalam aksen bahasa Jawa. Kata ini mempunyai arti 24 jam setelah sekarang. Tapi di Indonesia, “besok” bisa menjadi lusa atau bahkan minggu depan. Begitu yang ditulis oleh Terry Morrison & Wayne Conaway dalam buku best seller “Kiss, Bow, or Shake Hand: How Tod Do Business in 60 Countries”. Buku ini membahas tentang tips, etika dan budaya dalam melakukan bisnis di 60 negara (termasuk di Indonesia). Tanpa disadari, budaya “besok” yang dimiliki oleh bangsa kita menjadi terkenal di manca Negara.

Baca terus →

Agustus 7, 2009

Harga Sang Waktu (Manajemen Waktu -3)

Pernahkah kita menghargai waktu yang kita punya? Kalau belum, akan diberikan sedikit ilustrasi yang mungkin pernah juga anda alami. Misalnya, sejumlah uang yang hangus karena terlambat tiba di airport dan tertinggal pesawat yang akan kita tumpangi, dipotong gaji karena datang terlambat ke kantor, terlambat mengambil keputusan sehingga menderita kerugian besar. Itu adalah waktu yang bisa dihargai dengan uang. Bagaimana yang tidak bisa dinilai dengan uang? Contohnya, terlambat datang ke acara pengajian, terlambat datang pada acara pemakaman seorang sahabat, terlambat datang membesuk teman yang sedang sakit atau terlambat datang ke sekolah/kampus.

Baca terus →

Agustus 6, 2009

Disiplin Waktu Ala Jepang (Manajemen Waktu -2)

Jepang sangat terkenal karena masyarakatnya yang mempunyai disiplin yang sangat tinggi. Bagaimana asal muasalnya? Dirunut ke akarnya, ternyata salah satu budaya Jepang ini berasal dari budaya bercocok tanam padi. Negeri sakura ini memiliki empat jenis musim setiap tahunnya, sehingga mereka hanya dapat memanen padi sekali dalam setahun. Dengan kondisi demikian, para petani Jepang jaman dahulu dipaksa dan harus berdisiplin waktu agar padi yang mereka tanam dapat dipanen sesuai dengan waktunya sesuai dengan msuimnya. Bila gagal panen mereka tidak bisa makan nasi selama setahun. Waktu tanam harus sesuai dan pas jadwal yang telah ditetapkan.

Baca terus →

Agustus 5, 2009

Si Telat (Manajemen Waktu-1)

Dalam sebuah rapat yang sudah akan dimulai, salah seorang peserta rapat mengusulkan agar rapat segera dimulai tanpa harus menunggu seorang peserta rapat yang belum hadir. “Kita mulai saja, dia memang selalu datang terlambat”. Kejadian seperti ini tentu banyak dialami oleh kita semua. Stigma “si telat” akan melekat bagi orang yang biasanya terlambat datang untuk acara apapun. Kalau terlambatnya sekali dua kali dengan alasan darurat mungkin bisa dimaklumi. Sebaliknya; alasan “macet”, “ hujan” atau berjuta alasan standar lainnya akan susah untuk diterima.

Mengatur waktu adalah sesuatu yang penting. Perlu manajemen atau pengelolaan tersendiri agar semua pekerjaan berjalan lancar dan tidak tertunda. Bayangkan, rapat akan tertunda hanya karena menunggu satu dua orang yang terlambat. Kalau yang terlambat itu pegawai biasa mungkin akan mudah untuk dimulai saja rapatnya. Tapi kalau yang terlambat adalah petinggi atau pejabat di kantor, akan susah bagi kita untuk memulai rapat. Konsekuensinya, pekerjaan yang sudah dijadwalkan set6elah selesai acara akan tertunda juga.

Baca terus →

Juli 31, 2009

Virus di Istana Presiden

Membaca tulisan dari mas Wisnu Nugroho (mas Inu) di Kompas hari ini terasa miris. Ternyata seorang SBY yang berbadan tegap dan selalu terlihat bugar sedang terkena virus influenza. Virus yang wujudnya tak terlihat oleh kasat mata ternyata juga mampu menyerang seorang presiden RI. Presiden juga manusia.Namun bukan hal ini saja yang membuat saya miris.

Baca terus →

Juli 9, 2009

Pilpres Itu Berakhir Damai

Setelah hiruk pikuk kampanye menjelang pemilihan presiden secara langsung, akhirnya hari yang ditunggu itu tiba. Berbondong-bondong orang menuju ke tempat pemngutan suara (TPS) di wilayahnya masing-masing. Meskipun masih ada keluhan tentang daftar pemilih tetap (DPT), namun berita mengenai kisruhnya DPT tidak lagi seheboh pada waktu Pemilu untuk pemilihan anggota legislatif di bulan April 2009 lalu. Terlepas dari siapa yang menang maupun siapa yang kalah, kita semua patut bersyukur bahwa pemilihan presiden berakhir dengan damai tanpa adanya konflik atau kerusuhan yang berarti. Baca terus →

Mei 25, 2009

Facebook Yang Mengubah Irama Hidup

Suatu hari, ada teman yang mengirim SMS kepada saya “Lagi makan di restaurant seafood yah?”. Saat itu saya memang sedang makan seafood dengan istri dan anak-anak. Secara refleks saya langsung celingukan mencari-cari teman saya tersebut yang mungkin sedang makan di tempat yang sama. Ternyata dia tidak ada di sana. Kemudian saya SMS ke teman saya tadi, “Kok bisa tahu, lagi di sini juga yah?”. Jawabnya cuma singkat saja “Ada deh…”.

Baca terus →